Minggu, 07 Desember 2014

askep sirosis hati wiwin -lila



LAPORAN PENDAHULUAN
SIROSIS HEPATIS di RUANG ‘ SHOFA’
R.S SAKINAH PASURUAN
 



 







Nama :
Lila Lusiana S
Wiwin Andayani


AKADEMI KEPERAWATAN DIPLOMA III
KAMPUS TERPADU SAKINAH
Jalan Raya Surabaya – Malang KM 42 Kepulungan
Gempol-Pasuruan
Tahun Ajaran 2014/2015
LAPORAN PENDAHULUAN
1.        Definisi
Sirosis hati adalah penyakit hati yang ditandai dengan adanya pembentukan jaringan ikat disertai nodul, biasanya di mulai dengan adanya proses peradangan nekrosis sel hati yang luas. Pembentukan jaringan ikat dan usaha generasi nodul. (suzanne C. Smeltzer & Brenda G. Bare, 2001)
Sirosis hati adalah penyakit yang ditandai oleh adanya peradangan difusi dan menahun pada hati. Diikuti dengan poliferasi jaringan ikat, degenerasi dan regenerasi sel hati sehingga timbul kekacauan dalam susunan parenkim hati. (Arief Manjoer, FKUI,1999)
Sirosis Hepatis (Sirosis Hati) adalah penyakit hati kronis yang tidak diketahui penyebabnya dengan pasti. Telah diketahui bahwa penyakit ini merupakan stadium terakhir dari penyakit hati kronis dan terjadinya pengerasan dari hati (Sujono H, 2002).
2.        Etiologi
Menurut FKUI  1999, penyebab sirosis hepatis antara lain:
a.       Malnutrisi
b.      Alkohol
c.       Virus hepatis
d.      Hemokromatosis (kelebihan zat besi)
e.       Zat toksik
3.        Anatomi dan Fungsi Hati
a.       Anatomi hati
Hati adalah organ terbesar yang terletak di sebelah kanan atas rongga perut di bawah diafragma. Beratnya sekitar 1.500 gr atau 2,5 % dari berat badan orang dewasa normal. Pada kondisi hidup berwarna merah tua karena kaya akan persediaan darah.
Hati terbagi menjadi dua lobus kiri dan kanan yang dipisahkan oleh ligamentum falciforme. Lobus kanan hati enam kali lebih besar dari lobus kirinya dan mempunyai 3 bagian utama yaitu : lobus kanan atas, lobus caudatus, dan lobus quadrates. Hati dikelilingi oleh kapsula fibrosa yang dinamakan kapsul glisson dan dibungkus peritonium pada sebagian besar keseluruhan permukaannya.
Hati disuplai oleh 2 pembuluh darah yaitu : vena porta hepatica yang berasal dari lambung dan usus yang kaya akan nutrien seperti asam amino, monosakarida, vitamin yang larut dalam air, dan mineral. Dan arteri hepatica, cabang dari arteri kuliaka yang kaya akan oksigen. Untuk lebih jelasnya dapat dijelaskan dengan gambar berikut ini:










b.      Fungsi Hati
Hati selain salah satu organ di badan kita yang terbesar, juga mempunyai fungsi terbanyak. Fungsi dari hati dapat dilihat sebagai organ keseluruhannya dapat dilihat dari sel-sel dalam hati.
1.      Fungsi hati sebagai organ keseluruhan diantaranya adalah :
·         Ikut mengatur keseimbangan cairan dan elektolit, karena semua cairan dan garam akan melewati hati sebelum ke jaringan ekstraseluler lainya.
·         Hati bersifat sebagai spons akan ikut mengatur volume darah, misalnya pada dekompensasio kordis kanan maka hati akan membesar
·         Sebagai alat saring (filter), semua makanan dan berbagai macam substansia yang telah diserap oleh intestine akan dialirkan ke organ melalui sistema portal.
2.      Fungsi dari sel-sel hati dapat dibagi :
a.       Fungsi sel epitel diantaranya :
·         Sebagai pusat metabolisme diantaranya metabolisme hidrat, arang, protein, lemak, empedu, proses metabolisme akan diuraikan sendiri.
·         Sebagai alat penyimpanan vitamin dan bahan makanan hasil metabolisme. Hati menyimpan makanan tersebut tidak hanya untuk kepentingannya sendiri tetapi untuk organ lainnya juga
·         Sebagai alat sekskresi untuk keperluan badan kita, diantaranya akan mengeluarkan glukosa, protein, faktor koagulasi, enzim, dan empedu.
·         Proses detoksifikasi dimana berbagai macam toksik baik eksogen maupun endogen yang masuk kedalam badan kita akan mengalami detoksifikasi dengan cara oksidasi, reduksi, hidrolisa atau konjugasi.
b.      Fungsi sel kupfer sebagai sel endotel mempunyai fungsi sebagai sistem retikulo endothelial:
·         Sel akan menguraikan Hb menjadi bilirubin
·         Membentuk a-globulin dan immune bodies
·         Sebagai alat fagositosis terhadap bakteri dan elemen puskuler atau makromolekuler
4.        Manifestasi Klinis
a.       Gejala
Gejala sirosis hati mirip dengan hepatitis, karena terjadi sama-sama di liver yang mulai rusak fungsinya, yaitu : kelelahan, hilang nafsu makan, mual-mual, badan lemah, kehilangan berat badan, nyeri lambung dan munculnya jaringan darah mirip laba-laba di kulit (spider angiomas). Pada sirosis terjadi kerusakan hati yang terus menerus dan terjadi regenerasi noduler serta ploriferasi jaringan ikat yang difus.
b.      Tanda klinis
·         Adanya ikterus (penguningan) pada penderita sirosis
Timbulnya ikterus pada seseorang merupakan tanda bahwa ia sedang menderita penyakit hati. Penguningan pada kulit dan mata terjadi ketika liver sakit dan tidak bisa menyerap bilirubin. Ikterus dapat menjadi penunjuk beratnya kerusakan hati. Ikterus terjadi sedikitnya pada 60% penderita selama perjalanan penyakit.
·         Timbulnya asites dan edema pada penderita sirosis
Ketika liver kehilangan kemampuannya membuat protein albumin, air menumpuk pada kaki (edema) dan abdomen (asites). Faktor utama asites adalah peningkatan tekanan hidrostatik pada kapiler usus. Edema umumnya timbul setelah asites sebagai akibat dari hipoalbuminemia dan resistensi garam dan air.
·         Hati yang membesar
Pembesaran hati dapat ke atas mendesak diafragma. Hati membesar sekitar 2-3 cm dengan konsistensi lembek dan menimbulkan rasa nyeri bila ditekan.
·         Hipertensi portal
Hipertensi portal adalah peningkatan tekanan darah vena portal yang menetap di atas nilai normal. Penyebab hipertensi portal adalah peningkatan resistensi terhadap aliran darah melalui hati.
5.        Klasifikasi Penyakit
Secara klinis sirosis hati dapat dibagi menjadi:
1.      Sirosis hati kompensata : yang berarti belum adanya gejala klinis yang nyata
2.      Sirosis hati dekompensata yang ditandai gejala-gejala dan tanda klinik yang jelas. Sirosis hati kompensata merupakan kelanjutan dari proses hepatitis kronik dan pasa satu tingkat tidak terlihat perbedaanya secara klinis, hanya dapat dibedakan melalui biopsi hati
Secara morfologis Sherrlock membagi sirosis hati berdasarkan besar kecilnya nodul, yaitu:
1.      Makronoduler (Ireguler, multilobuler)
2.      Mikronoduler (reguler, monolobuler)
3.      Kombinasi antara bentuk makronoduler dan mikronoduler
Menurut Gall, seorang ahli penyakit hati, membagi penyakit sirosis hati atas:
1.      Sirosis postnekrotik, atau sesuai dengan bentuk sirosis makronoduler atau sirosis toksik atau subcute yellow, atrophy chirrosis yang terbentuk karena banyak terjadi jaringan nekrose
2.      Nutrisional chirrosis terjadi sebagai akibat kekurangan gizi, terutama faktor lipotropik.
Shiff dan Tumen secara morfologi membagi atas:
1.      Chirrosis portal laenec (alkoholik nutrisional) dimana jaringan parut secara khas mengelilingi daerah portal. Sering disebabkan oleh alkoholis kronis
2.      Chirrosis pascanekrotik, dimana terdapat pita jaringan parut yang lebar sebagai akibat lanjut dari hepatitis virus akut yang terjadi sebelumnya
3.      Chirrosis bilier, dimana pembentukan jaringan parut terjadi dalam hati di sekitar saluran empedu, terjadi akibat obstruksi bilier yang kronis dan infeksi (kolangitis)



 
7.      Pemeriksaan Diagnostik
Pemeriksaan laboratorium pada sirosis hati meliputi hal-hal berikut.
a.       Kadar Hb yang rendah (anemia), jumlah sel darah putih menurun (leukopenia), dan trombositopenia
b.      Kenaikan SGOT, SGPT dan gamma GT akibat kebocoran dari sel-sel yang rusak. Namun, tidak meningkat pada sirosis inaktif.
c.       Kadar albumin rendah. Terjadi bil kemampuan sel hati menurun.
d.      Kadar kolinesterase (CHE) yang menurun kalau terjadi kerusakan sel hati
e.       Masa protrombin yang memanjang menandakan penurunan fungsi hati
f.       Pada sirosis fase lanjut, glukosa darah yang tinggi menandakan ketidakmampuan sel hati membentuk glikogen.
g.      Pemeriksaan marker serologi pertanda virus untuk menentukan penyebab sirosis hati seperti HbsAg, HbeAg, HBV-DNA, HCV-RNA, dan sebagainya
h.      Pemeriksaan alfa feto protein (AFP).
Pemeriksaan penunjang lainnya yang dapat dilakukan antara lain ultrasonografi (USG). Pemeriksaan radiologi dengan menelan bubur barium untuk melihat varises esofagus, pemeriksaan esofagoskopi untuk melihat besar dan panjang  varises serta sumber perdarahan, pemeriksaan sidikan hati dengan penyuntikan zat kontras, CT scan, dan endoscopic retrograde chlangiopancreatography (ERCP)
8.      Penatalaksanaan
a.       Istirahat di tempat tidur sampai terdapat perbaikan ikterus, asites, dan demam
b.      Diet rendah protein (diet hati III protein 1 gr/kg BB, 55 gr protein, 2000 kalori). Bila ada asites diberikan diet rendah garam II (600-800 mg) atau III (1000-2000 mg). Bila proses tidak aktif diperlukan diet tinggi kalori (2000-3000 kalori) dan tinggi protein (80-125 gr/hari). Bila ada tanda-tanda prekoma atau koma hepatikum, jumlah protein dalam makanan dihentikan (diet hati II) untuk kemudian diberikan kembali sedikit-demi sedikit sesuai toleransi dan kebutuhan tubuh. Pemberian protein yang melebihi kemampuan pasien atau meningginya hasil metabolisme protein, dalam darah viseral dapat mengakibatkan timbulnya koma hepatikum. Diet yang baik dengan protein yang cukup perlu diperhatikan.
c.       Mengatasi infeksi dengan antibiotik diusahakan memakai obat-obatan yang jelas tidak hepatotoksik.
d.      Mempebaiki keadaan gizi bila perlu dengan pemberian asam amino esensial berantai cabang dengan glukosa.
e.       Roboransia. Vitamin B compleks. Dilarang makan dan minum bahan yang mengandung alkohol.
Penatalaksanaan asites dan edema adalah :
Istirahat dan diet rendah garam. Dengan istirahat dan diet rendah garam (200-500 mg perhari), kadang-kadang asitesis dan edema telah dapat diatasi. Adakalanya harus dibantu dengan membatasi jumlah pemasukan cairan selama 24 jam, hanya sampai 1 liter atau kurang.
Bila dengan istirahat dan diet tidak dapat diatasi, diberikan pengobatan diuretik berupa spironolakton 50-100 mg/hari (awal) dan dapat ditingkatkan sampai 300 mg/hari bila setelah 3 – 4 hari tidak terdapat perubahan.
Bila terjadi asites refrakter (asites yang tidak dapat dikendalikan dengan terapi medikamentosa yang intensif), dilakukan terapi parasentesis. Walupun merupakan cara pengobatan asites yang tergolong kuno dan sempat ditinggalkan karena berbagai komplikasinya, parasentesis banyak kembali dicoba untuk digunakan. Pada umunya parasentesis aman apabila disertai dengan infus albumin sebanyak 6 – 8 gr untuk setiap liter cairan asites. Selain albumin dapat pula digunakan dekstran 70 % Walaupun demikian untuk mencegah pembentukan asites setelah parasentesis, pengaturan diet rendah garam dan diuretik biasanya tetap diperlukan.
Pengendalian cairan asites. Diharapkan terjadi penurunan berat badan 1 kg/hari. Hati-hati bila cairan terlalu banyak dikeluarkan dalam suatu saat, dapat mencetuskan ensefalopati hepatik
9.      Komplikasi
Komplikasi chirrosis hati yang dapat terjadi antara lain:
1.   Perdarahan
Penyebab perdarahan saluran cerna yang paling sering dan berbahaya pada chirrosis hati adalah perdarahan akibat pecahnya varises esofagus. Sifat perdarahan yang ditimbulkan ialah muntah darah atau hematemesis, biasanya mendadak tanpa didahului rasa nyeri. Darah yang keluar berwarna kehitam-hitaman dan tidak akan membeku karena sudah bercampur dengan asam lambung. Penyebab lain adalah tukak lambung dan tukak duodeni.
2.   Koma hepatikum
Timbulnya koma hepatikum akibat dari faal hati yang sudah sangat rusak, sehingga hati tidak dapat melakukan fungsinya sama sekali. Koma hepatikum mempunyai gejala karakteristik yaitu hilangnya kesadaran penderita. Koma hepatikum dibagi menjadi dua, yaitu: Pertama koma hepatikum primer, yaitu disebabkan oleh nekrosis hati yang meluas dan fungsi vital terganggu seluruhnya, maka metabolism tidak dapat berjalan dengan sempurna. Kedua koma hepatikum sekunder, yaitu koma hepatikum yang timbul bukan karena kerusakan hati secara langsung, tetapi oleh sebab lain, antara lain karena perdarahan, akibat terapi terhadap asites, karena obat-obatan dan pengaruh substansia nitrogen.
3.   Ulkus Peptikum
Timbulnya ulkus peptikum pada penderita Sirosis Hepatis lebih besar bila dibandingkan dengan penderita normal. Beberapa kemungkinan disebutkan diantaranya ialah timbulnya hiperemi pada mukosa gaster dan duodenum, resistensi yang menurun pada mukosa, dan kemungkinan lain ialah timbulnya defisiensi makanan
4.   Karsinoma Hepatoselular
Kemungkinan timbulnya karsinoma pada Sirosis Hepatis terutama pada bentuk postnekrotik ialah karena adanya hiperplasi noduler yang akan berubah menjadi adenomata multiple kemudian berubah menjadi karsinoma yang multiple
5.   Infeksi
Setiap  penurunan kondisi badan akan mudah kena infeksi, termasuk juga penderita sirosis, kondisi badannya menurun. Infeksi yang sering timbul pada penderita sirosis, diantaranya adalah : peritonitis, bronchopneumonia, pneumonia, tbc paru-paru, glomeluronefritis kronik, pielonefritis, sistitis, perikarditis, endokarditis, erysipelas maupun septikemi.


DAFTAR PUSTAKA

Doengoes, Marilynn E. (1999). Rencana Asuhan Keperawatan : pedoman untuk perencanaan dan pendokumentasian perawatan pasien, Edisi : 3.Jakarta : ECG.
Herdman, T. Heather. (2012). Diagnosis Keperawatan : Definisi dan Klasifikasi 2012-2014. Jakarta : ECG
Dorland, W. A. Newman. (2011). Kamus Saku Kedokteran Dorland. Jakarta : ECG
Smeltzer C. Suzanne, Brunner & Suddarth. (2002) . Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah. Jakarta : ECG
Smeltzer, Suzanne C dan Brenda G. Bare. (2001) . Keperawatan Medikal Bedah2, Edisi 8. Jakarta : EGC














ASUHAN KEPERAWATAN
SIROSIS HEPATIS di RUANG ‘ SHOFA’
R.S SAKINAH PASURUAN
 


 








Nama :
Lila Lusiana S
Wiwin Andayani


AKADEMI KEPERAWATAN DIPLOMA III
KAMPUS TERPADU SAKINAH
Jalan Raya Surabaya – Malang KM 42 Kepulungan
Gempol-Pasuruan
Tahun Ajaran 2014/2015
ASUHAN KEPERAWATAN
PENGKAJIAN
       I.            Informasi Umum
Tanggal MRS             : 6 Juli 2014
Jam MRS                    : 15.50 wib
Ruang                         : Shofa
No. Registrasi             : 668.439
Dx. Medis                  : Sirosis Hepatis
Tanggal Pengkajian    : 8 Juli 2014
Jam Pengkajian           : 08.00 wib
A.    Data Pasien
Nama                                      : Tn. A
Jenis Kelamin                         : Laki-laki
Umur                                      : 50 th
Status Perkawinan                  : Kawin
Pekerjaan                                : Karyawan swasta
Agama                                    : Islam
Pendidikan                             : SMA
Alamat                                    : Ds. Sukamaju - Pasuruan
Penanggung Jawab                 : Musdalifah
Alamat Penanggung Jawab    : Ds. Sukamaju - Pasuruan
B.     Riwayat Kesehatan Pasien
a.       Keluhan Utama
Pasien mengatakan bahwa dia lemas dan tidak nafsu makan
b.      Riwayat Penyakit Sekarang
Pasien mengatakan bahwa dia merasakan lemas tak bertenaga dan tidak nafsu makan, bengkak pada seluruh tubuh, kulitnya terasa gatal dan berwarna kekuningan, BAK sedikit dan berbusa selama 1 minggu yang lalu kemudian pasien memeriksakan diri di puskesmas kecamatan asri dan kemudian dirujuk ke rs sakinah pada tanggal 6 Juli 2014 jam 15.50 wib
c.       Riwayat Penyakit Dahulu
Pasien mengatakan pernah menderita penyakit Hepatitis B satu tahun yang lalu, namun setelah dinyatakan sembuh pasien mengulangi kebiasaanyya mengkonsumsi alkohol.
d.      Riwayat Penyakit Keluarga
Pasien mengatakan bahwa keluarganya tidak ada yang pernah menderita penyakit hepatitis maupun penyakit menular lainnya.
    II.            Pola Aktivitas
A.    Aktivitas/Istirahat
Gejala: Pasien mengatakan dia merasa lemas dan lelah
Tanda: pasien terlihat mengalami letargi, dan terjadi penurunan tonus otot
B.     Sirkulasi
Gejala: pasien mengatakan bahwa dirinya tidak pernah menderita penyakit seperti penyakit jantung dan penyakit sirkulasi lain
C.     Eliminasi
Gejala : pasien mengatakan bahwa dia sering buang gas
Tanda : terjadi distensi abdomen karena hepatomegali, splenomegali, dan asites, penurunan bising usus, feses berwarna tanah liat / melena, urine berwarna gelap/ pekat
D.    Makanan/cairan
Gejala: pasien mengatakan dirinya tidak nafsu makan, mual, dan muntah
Tanda : pasien tampak lemas, dan pucat, napas berbau
E.     Neurosensori
Gejala : keluarga pasien mengatakan bahwa pasien mngalami penurunan mental sejak mengalami sakit
Tanda : pasien terlihat seperti orang bingung, berbicara lambat
F.      Nyeri/kenyamanan
Gejala : pasien mengatakan bahwa perut sebelah kanan atasnnya terasa sakit, dengan skala 4 (skala bourbanis), dan nyeri timbul setiap saat apalagi bila dipakai bergerak
Tanda : pasien terlihat berhati-hati bila bergerak
G.    Pernapasan
Gejala : pasien mengatakan bahwa ia mrasakan sedikit sesak napas / dispnea
Tanda : pernapasan pasien dangkal, ekspansi paru terhambat karena asites
H.    Keamanan
Gejala : pasien mengatakan dirinya merasa gatal disekujur tubunhya / pruritus
Tanda : ikterik pada kulit, angioma spider, eritema palmar
I.       Seksualitas
Gejala : pasien mangatakan dirinya mengalami disfungsi seksual yaitu impoten
 III.            Pemeriksaan Fisik
1.      Keadaan Umum
Tampak lemah (sakit sedang)
Kesadaran : GCS : 456
                   Kualitas : composmentis
2.      Tanda Tanda Vital
TD: 150/100 mmHg               S: 39 °C
N :86 x / menit                       RR: 22 x / menit
BB : 54 kg                              TB : 168 cm
3.      Pemeriksaan Kepala dan Leher
a)      Kepala     : inspeksi         : bentuk kepala : oval
                                          Lesi : -
                                          Edema : -
                                          Warna : sawo matang
                   palpasi           : nyeri tekan : -
                                          massa : -
b)      Rambut    : inspeksi         : penyebaran rambut : merata
                                          Warna : hitam beruban
                                          Kebersihan : bersih
c)      Mata        : inspeksi         : kesimetrisan : simetris
                                          Palpebra : edema
                                          Konjungtiva : anemis
                                          Sklera : ikterik
d)     Hidung    : inspeksi         : kesimetrisan : simetris
                                Kebersihan : bersih
                                Pernapasan cuping hidung : tidak ada                  Perdarahan hidung : tidak ada
                   Palpasi           : deformitas : tidak ada
                                                                    Nyeri tekan : tidak ada                          
e)      Mulut       : inspeksi         : kelembaban : kering
                                          Warna : coklat
f)       Telinga     : inspeksi         : bentuk telinga : normal
                                          kesimetrisan : simetris
                                          kebersihan : bersih
                                          perdarahan : tidak ada
                                          alat bantu prndengaran : tidak ada
                   palpasi           : nyeri tekan : tidak ada
g)      Leher       : inspeksi         : posisi trakea : lurus
                   palpasi           : nyeri tekan : tidak ada
                                          massa : tidak ada
4.      Pemeriksaan Integumen
Inspeksi : kebersihan : bersih
                 Warna : coklat
                 Lesi: tidak ada
                 Edema : tidak ada
                 Spider nevi : +
                 Eritema palmar : +
                 Edema ansarka : +
Palpasi : tekstur : kasar
              Turgor : buruk (saat dicubit kembali lebih dari 2 detik
              Kelembaban : kurang (kulit cenderung kering)
5.      Pemeriksaan Thoraks dan Jantung
Inspeksi               : thorax       : bentuk : barrel chest
                                                 Lesi : tidak ada
                              Jantung     : ictus cordis tidak terlihat
Palpasi                 : thorax       : ekspansi paru : menurun karena asites
                                                 Traktil fremitus : sama
                              Jantung     : ictus cordis ics V
Perkusi                 : thorax       : sonor
Auskultasi           : thorax : ronkhi
                              Jantung : s1-s1 (lup dup)
6.      Pemeriksaan Ekstremitas
Ekstremitas atas       : inspeksi : deformitas : -
                                                    Fraktur : -
                                                    Lesi : -
                                                    Eritema palmar : +
                                   Palpasi: tekstur : halus
                                               Kelembaban : kurang
                                               Nyeri tekan : -
Ekstremitas bawah   : inspeksi : deformitas : -
                                                    Lesi : -
                                                    Kelainan : -
                                   Palpasi : tekstur : halus
                                                  Kelembaban : kurang
                                                  Nyeri tekan : -
Tonus otot : 4   4
                    4    4
7.      Pemeriksaan Abdomen
Inspeksi          : asites : +
                          Pelebaran vena : -
                          Lesi : -
Auskultasi       : bising usus 5 x / menit tiap kuadran
Palpasi            : nyeri tekan : kwadran kanan atas, p= saat bergerak, q= seperti ditusuk, r= kwadran kanan atas, s= 4 (sedang, skala bourbanis), t= setiap saat.
                        Hepatoegali = +
                          Massa : -
Perkusi            : pekak
8.      Pemeriksaan Genitalia
Tidak terkaji
 IV.            Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan Laboratorium Faal Hati
Ukuran
Satuan
Hasil
Nilai Rujukan
ALT (SGPT)
U/L
35
<23 span="">
<30 span="">
AST (SGOT)
U/L
35
<21 span="">
<25 span="">
Alkalin Fosfatase
U/L
100
15-69
GGT (Gamma GT)
U/L
50
5-38
Bilirubin Total
mg/dL
3
0,25-1,0
Bilirubin Langsung
mg/dL
1
0,0-0,25
Protein Total
g/L
40
61-82
Albumin
g/dL
2
3,4-5,4

Terapi :
IFN (Interferon) 3 juta unit  3 x seminggu / sc
RIB (Ribavirin) 3 x 200 mg / hari / oral
Furosemid 2x 20 mg / hari / oral















ANALISA DATA
Nama : Tn. A                                                               Umur : 50 th
No. Reg : 668.439                                                        Tanggal : 8 Juli 2014
                                                                                     Jam : 08.00
DATA
ETIOLOGI
PROBLEM
Ds :
Pasien mengatakan :
-tidak nafsu makan
-cepat merasa kenyang
-merasa tidak bertenaga
-merasa mual, muntah
Do :
Pasien nampak :
-lemas
-pucat
-tonus otot buruk
Napas berbau
TTV :
-TD : 150/100 mmHg
-N : 86 x/min
-RR : 22 x/min
-S : 39 °C
Sirosis hati

Gangguan fungsi hati

Gangguan pembentukan empedu

Lemak tidak dapat diemulsikan & tidak dapat diserap usus

Ketidakseimbangan nutrisi : kurang dari kebutuhan tubuh
Ketidakseimbangan nutrisi : kurang dari kebutuhan tubuh
Ds :
Pasien mengatakan :
-badanya terasa bengkak semua
-jumlah dan frekuensi BAK berkurang
Do :
Pasien nampak :
-edema anasarka
-peningkatan BB (51 kg sebelum sakit menjadi 54 kg setelah sakit)
-oliguria
TTV :
-TD : 150/100 mmHg
-N : 86 x/min
-RR : 22 x/min
-S : 39 °C
Sirosis hati

Fungsi hati terganggu

Gangguan metabolisme protein

Asam amino relatif (globulin, albumin)↓

Hipoalbuminemia
 

Edema anasarka

Kelebihan volume cairan
Kelebihan volume cairan
Ds :
Pasien mengatakan :
-pasien mengatakan badanya terasa gatal
Do :
Pasien nampak
-pruritus
Ikterik
TTV :
-TD : 150/100 mmHg
-N : 86 x/min
-RR : 22 x/min
-S : 39 °C
Sirosis hati

Gangguan fungsi hati

Gangguan metabolisme bilirubin

Bilirubin tak terkonjugasi

Ikterik

Penumpukan garam empedu dibawah kulit

Pruritus

Resti kerusakan integritas kulit
Resti kerusakan integritas kulit





DIAGNOSA KEPERAWATAN
Nama : Tn. A                                                               Umur : 50 th
No. Reg : 668.439                                                        Tanggal : 8 Juli 2014
                                                                                     Jam : 08.00
No
Tanggal
Diagnosa
1
8 Juli 2014
Ketidakseimbangan nutrisi : kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan fungsi usus abnormal
Ds :
Pasien mengatakan :
-tidak nafsu makan
-cepat merasa kenyang
-merasa tidak bertenaga
-merasa mual, muntah
Do :
Pasien nampak :
-lemas
-pucat
-tonus otot buruk
Napas berbau
TTV :
-TD : 150/100 mmHg
-N : 86 x/min
-RR : 22 x/min
-S : 39 °C
2
8 juli 2014
Kelebihan volume cairan berhubungan dengan penurunan protein plasma
Ds :
Pasien mengatakan :
-badanya terasa bengkak semua
-jumlah dan frekuensi BAK berkurang
Do :
Pasien nampak :
-edema anasarka
-peningkatan BB (51 kg sebelum sakit menjadi 54 kg setelah sakit)
-oliguria
TTV :
-TD : 150/100 mmHg
-N : 86 x/min
-RR : 22 x/min
-S : 39 °C
3
8 juli 2014
Resti kerusakan integritas kulit berhubungan dengan akumulasi garam empedu dibawah permukaan kulit
Ds :
Pasien mengatakan :
-pasien mengatakan badanya terasa gatal
Do :
Pasien nampak
-pruritus
Ikterik
TTV :
-TD : 150/100 mmHg
-N : 86 x/min
-RR : 22 x/min
-S : 39 °C







INTERVENSI KEPERAWATAN
Nama : Tn. A                                                                                                                                                         Umur : 50 th
No. Reg : 668.439                                                                                                                                                                              Tanggal : 8 Juli 2014
                                                                                                                                                                               Jam : 08.00
No. Dx
Tujuan dan Kriteria Hasil
Intervensi
Rasional
1
Tujuan :
-pemasukan nutrisi adekuat untuk kebutuhan individu
-meminimalkan/mencegah komplikasi
Kriteria hasil :
-menunjukkan peningkatan berat badan progresif mencapai tujuan dengan nilai laboratorium normal
-tak mengalami tanda malnutrisi lebih lanjut
1)      BHSP


2)      Ukur masukan diet harian dengan jumlah kalori
3)      Berikan makan sedikit tapi sering



4)      berikan perawatan mulut sering dan sebelum makan



5)      awasi pemeriksaan laboratorium, contoh : glukosa serum, albumin, total protein, amonia





6)      berikan obat sesuai indikasi, contoh : tambahan vitamin, tiamin, besi, asam folat
1.      Membangun hub saling percaya antara pasien, perawat, & keluarga pasien

2.      Memberikan informasi tentang kebutuhan pemasukan/ defisiensi

3.      Buruknya toleransi terhadap makan banyak mungkin berhubungan dengan peningkatan tekanan intra abdomen/ asites
4.      Pesien cenderung mengalami luka/perdarahan gusi/ rasa tak enak pada mulut dimana menambah anoreksia
5.      Glukosa menurun karena gangguan glikogenesis penurunan simpanan glikogen / masukan tidak adekuat. Protein menurun karena gangguan metabolisme, penurunan sintesis hepatik. Peningkatan amonia perlu pembatasan masukan protein untuk mencegah komplikasi serius
6.      Pasien biasanya kekurangan vitamin karena diet yang buruk sebelumnya. Juga hati yang rusak tidak dapat menyimpan vitamin A,B komplek,D dan K. Juga dapat terjadi kekurangan besi dan asam folay yang menimbulkan anemia.
2
Tujuan :
Menormalkan kembali volume cairan dalam tubuh
Kriteria hasil :
-menunjukkan volumecairan stabil, dengan keseimbangan
-pemasukan dan pengeluaran,
-berat badan stabil
-tanda-tanda vital dalam rentang normal,
-tak ada edema.
1.      Ukur masukan dan haluaran, catat keseimbangan positif (pemasukan melebihi pengeluaran). Timbang berat badan tiap hari, dan catat peningkatan lebih dari 0,5 kg/hari.



2.      Kaji derajat perifer/edema dependen.



3.      Ukur lingkar abdomen






4.      Kolaborasi dengan tim medis dalam pemberian :
a.       diuretik (lasix)


b.      pemberian albumin bebas garam / plasma ekspander sesuai indikasi



c.       batasi cairan dan natrium sesuai indikasi
1.      Menunjukkan status volume sirkulasi, terjadinya/perbaikan perpindahan cairan, dan respons terhadap terapi. Catatan: penurunan volume sirkulasi (perpindahan cairan) dapat mempengaruhi secara langsung fungsi/haluan urine, mengakibatkan sindrom hepatorenal.
2.      Perpindahan cairan pada jaringan sebagai akibat retensi natrium dan air, penurunan albumin, dan penurunan ADH.
3.      Menunjukkan akumulasi cairan (asites) diakibatkan oleh kehilangan protein plasma/cairan kedalam area peritoneal. Catatan: akumulasi kelebihan cairan dapat menurunkan volume sirkulasi menyebabkan deficit (tanda dehidrasi).


a.       Digunakan untuk mengontrol edemadan asites, menghambat aldosteron, meningkatkan ekskresi air
b.      Untuk meningkatkan tekanan osmotik koloid dalam kompartemen vaskuler, sehingga meningkatkan volume sirkulasi efektif dan menurunkan terjadinya asites.
c.       Untuk meminimalkan retensi cairan dalam area ekstravaskuler
3
Tujuan :
Mempertahankan integritas kulit
Kriteria hasil :
-mempertahankan integritas kulit
-mengidentifikasi faktor resiko
1)      Lihat permukaan kulit/titik tekanan secara rutin.Pijat penonjolan tulang atau area yang tertekan yang terus-menerus. Gunakan lotion minyak ; batasi pengguaan sabun untuk mandi.
2)      Ubah posisi pada jadwal teratur,saat di kursu atau tempat tidur; bantu dengan latihan rentang gerak aktif atau pasif.


3)      Tinggikan ekstrenitas bawah.

4)      Pertahankan sprei kering dan bebas lipatan.
1.      Edema jaringan lebih cendrung untuk mengelami kerusakan dan terbentuk dekubitus. Asitas dapat meregangkan kulit sampai pada titik robkan pada sirosis berat.
2.      Pengubahan posisi menurunkan tekanan pada jaringan edema untuk memperbaiki sirkulasi. Latihan meningkatkan sirkulasi dan perbaikan atau mempertahankan mobilitas sendi.
3.      Meningkatkan aliran balik vena dan menurunkan edema pada ekstremitas.
4.      Kelembaban meningkatkan pruritus dan meningkatkan risiko kerusakan kulit.













IMPLEMENTASI KEPERAWATAN
Nama : Tn. A                                                                                                                                                         Umur : 50 th
No. Reg : 668.439                                                                                                                                                                              Tanggal : 8 Juli 2014
                                                                                                                                                                               Jam : 08.00
Tanggal
Jam
No. Dx
Implementasi
Respon Klien
9 Juli ‘14
08.00
08.05
08.20
08.30
08.40

08.50
1
1.      Melakukan BHSP
2.      Mengukur masukan diet harian dengan jumlah kalori
3.      Memberikan makan sedikit tapi sering
4.      Memberikan perawatan mulut sering dan sebelum makan
5.      Mengawasi pemeriksaan laboratorium, contoh : glukosa serum, albumin, total protein, amonia
6.      Memberikan obat sesuai indikasi, contoh : tambahan vitamin, tiamin, besi, asam folat
1.      Px menerima dengan baik
2.      Px kooperatif
3.      Px kooperatif
4.      Px kooperatif
5.      Px kooperatif
9 juli ‘ 14
09.00


09.15
09.30
09.40



2
1.      Mengukur masukan dan haluaran, catat keseimbangan positif (pemasukan melebihi pengeluaran). Timbang berat badan tiap hari, dan catat peningkatan lebih dari 0,5 kg/hari.
2.      Mengkaji derajat perifer/edema dependen.
3.      Mengukur lingkar abdomen
4.      Berkolaborasi dengan tim medis dalam pemberian :
a.       Diuretik (lasix)
b.      Pemberian albumin bebas garam / plasma ekspander sesuai indikasi
c.       Membatasi cairan natrium sesuai indikasi
1.      Px kooperatif
2.      Px kooperatif
3.      Px kooperatif
4.      Px kooperatif
9 juli ‘ 14
09.50


10.00

10.15
10.20
3
1)      Mengamati permukaan kulit/titik tekanan secara rutin.Pijat penonjolan tulang atau area yang tertekan yang terus-menerus. Gunakan lotion minyak ; batasi pengguaan sabun untuk mandi.
2)      Mengubah posisi pada jadwal teratur,saat di kursu atau tempat tidur; bantu dengan latihan rentang gerak aktif atau pasif.
3)      Meninggikan ekstrenitas bawah.
4)      Mempertahankan sprei kering dan bebas lipatan.
1)      Px kooperatif
2)      Px kooperatif
3)      Px kooperatif
4)      Px kooperatif





EVALUASI
Nama : Tn. A                                                               Umur : 50 th
No. Reg : 668.439                                                        Tanggal : 9 Juli 2014
                                                                                     Jam : 14.00
No. Dx
Tanggal/jam
Evaluasi
1
9 juli ‘14/14.00
S : Px mengatakan nafsu makannya berangsunr kembali, masih merasa cepat kenyang, sudah tidak mual lagi, merasa lebih segar
O : Px tampak lebih bertenaga, tidak pucat, tonus otot baik
TTV :
TD : 140/100 mmHg
N : 80 x /min
RR : 22 x / min
S : 37,5 °C
A : Masalah teratasi sebagian
P : Intervensi No. 2,3,4,5,6 dilanjutkan
2
9 juli ‘ 14 / 14.10
S : Px mengatakan bengkak pada badannya sedikit berkurang, lebih sering kencing
O : Jumlah dan Frekuensi urine bertambah, edema pada tuubh pasien berangsur berkurang
TTV
TD : 140/100 mmHg
N : 80 x /min
RR : 22 x / min
S : 37,5 °C
BB : 53 kg
A : Masalah teratasi sebagian
P : Intervensi no. 1,2,3,4 dilanjutkan
3
9 juli ‘14/ 14.20
S : pasien mengatakan gatal pada kulitnya sedikit berkurang, dan warna kekuningan pada kulitnya mulai hilang
O : ikterik sudah mulai hilang, pruritus sudah mulai hilang
TTV :
TD : 140/100 mmHg
N : 80 x /min
RR : 22 x / min
S : 37,5 °C
A : masalah teratasi sebagian
P : Intervensi no. 1,2,3,4 dilanjutkan

Tidak ada komentar:

Posting Komentar