LAPORAN PENDAHULUAN
SIROSIS HEPATIS di RUANG ‘ SHOFA’
R.S SAKINAH PASURUAN
Nama :
Lila Lusiana S
Wiwin Andayani
AKADEMI KEPERAWATAN DIPLOMA III
KAMPUS TERPADU SAKINAH
Jalan
Raya Surabaya – Malang KM 42 Kepulungan
Gempol-Pasuruan
Tahun
Ajaran 2014/2015
LAPORAN PENDAHULUAN
1.
Definisi
Sirosis
hati adalah penyakit hati yang ditandai dengan adanya pembentukan jaringan ikat
disertai nodul, biasanya di mulai dengan adanya proses peradangan nekrosis sel
hati yang luas. Pembentukan jaringan ikat dan usaha generasi nodul. (suzanne C.
Smeltzer & Brenda G. Bare, 2001)
Sirosis
hati adalah penyakit yang ditandai oleh adanya peradangan difusi dan menahun
pada hati. Diikuti dengan poliferasi jaringan ikat, degenerasi dan regenerasi
sel hati sehingga timbul kekacauan dalam susunan parenkim hati. (Arief Manjoer,
FKUI,1999)
Sirosis
Hepatis (Sirosis Hati) adalah penyakit hati kronis yang tidak diketahui
penyebabnya dengan pasti. Telah diketahui bahwa penyakit ini merupakan stadium
terakhir dari penyakit hati kronis dan terjadinya pengerasan dari hati (Sujono
H, 2002).
2.
Etiologi
Menurut
FKUI 1999, penyebab sirosis hepatis
antara lain:
a.
Malnutrisi
b.
Alkohol
c.
Virus hepatis
d.
Hemokromatosis
(kelebihan zat besi)
e.
Zat toksik
3.
Anatomi dan
Fungsi Hati
a.
Anatomi hati
Hati
adalah organ terbesar yang terletak di sebelah kanan atas rongga perut di bawah
diafragma. Beratnya sekitar 1.500 gr atau 2,5 % dari berat badan orang dewasa
normal. Pada kondisi hidup berwarna merah tua karena kaya akan persediaan
darah.
Hati
terbagi menjadi dua lobus kiri dan kanan yang dipisahkan oleh ligamentum
falciforme. Lobus kanan hati enam kali lebih besar dari lobus kirinya dan
mempunyai 3 bagian utama yaitu : lobus kanan atas, lobus caudatus, dan lobus
quadrates. Hati dikelilingi oleh kapsula fibrosa yang dinamakan kapsul glisson
dan dibungkus peritonium pada sebagian besar keseluruhan permukaannya.
Hati disuplai oleh 2 pembuluh darah
yaitu : vena porta hepatica yang berasal dari lambung dan usus yang kaya akan
nutrien seperti asam amino, monosakarida, vitamin yang larut dalam air, dan
mineral. Dan arteri hepatica, cabang dari arteri kuliaka yang kaya akan
oksigen. Untuk lebih jelasnya dapat dijelaskan dengan gambar berikut ini:
b.
Fungsi Hati
Hati selain
salah satu organ di badan kita yang terbesar, juga mempunyai fungsi terbanyak.
Fungsi dari hati dapat dilihat sebagai organ keseluruhannya dapat dilihat dari
sel-sel dalam hati.
1.
Fungsi hati
sebagai organ keseluruhan diantaranya adalah :
·
Ikut mengatur
keseimbangan cairan dan elektolit, karena semua cairan dan garam akan melewati
hati sebelum ke jaringan ekstraseluler lainya.
·
Hati bersifat
sebagai spons akan ikut mengatur volume darah, misalnya pada dekompensasio
kordis kanan maka hati akan membesar
·
Sebagai alat
saring (filter), semua makanan dan berbagai macam substansia yang telah diserap
oleh intestine akan dialirkan ke organ melalui sistema portal.
2.
Fungsi dari
sel-sel hati dapat dibagi :
a.
Fungsi sel
epitel diantaranya :
·
Sebagai pusat
metabolisme diantaranya metabolisme hidrat, arang, protein, lemak, empedu,
proses metabolisme akan diuraikan sendiri.
·
Sebagai alat
penyimpanan vitamin dan bahan makanan hasil metabolisme. Hati menyimpan makanan
tersebut tidak hanya untuk kepentingannya sendiri tetapi untuk organ lainnya
juga
·
Sebagai alat
sekskresi untuk keperluan badan kita, diantaranya akan mengeluarkan glukosa,
protein, faktor koagulasi, enzim, dan empedu.
·
Proses
detoksifikasi dimana berbagai macam toksik baik eksogen maupun endogen yang
masuk kedalam badan kita akan mengalami detoksifikasi dengan cara oksidasi,
reduksi, hidrolisa atau konjugasi.
b.
Fungsi sel
kupfer sebagai sel endotel mempunyai fungsi sebagai sistem retikulo
endothelial:
·
Sel akan
menguraikan Hb menjadi bilirubin
·
Membentuk
a-globulin dan immune bodies
·
Sebagai alat
fagositosis terhadap bakteri dan elemen puskuler atau makromolekuler
4.
Manifestasi
Klinis
a.
Gejala
Gejala sirosis
hati mirip dengan hepatitis, karena terjadi sama-sama di liver yang mulai rusak
fungsinya, yaitu : kelelahan, hilang nafsu makan, mual-mual, badan lemah,
kehilangan berat badan, nyeri lambung dan munculnya jaringan darah mirip
laba-laba di kulit (spider angiomas). Pada sirosis terjadi kerusakan hati yang
terus menerus dan terjadi regenerasi noduler serta ploriferasi jaringan ikat
yang difus.
b.
Tanda klinis
·
Adanya ikterus
(penguningan) pada penderita sirosis
Timbulnya
ikterus pada seseorang merupakan tanda bahwa ia sedang menderita penyakit hati.
Penguningan pada kulit dan mata terjadi ketika liver sakit dan tidak bisa
menyerap bilirubin. Ikterus dapat menjadi penunjuk beratnya kerusakan hati.
Ikterus terjadi sedikitnya pada 60% penderita selama perjalanan penyakit.
·
Timbulnya asites
dan edema pada penderita sirosis
Ketika liver
kehilangan kemampuannya membuat protein albumin, air menumpuk pada kaki (edema)
dan abdomen (asites). Faktor utama asites adalah peningkatan tekanan
hidrostatik pada kapiler usus. Edema umumnya timbul setelah asites sebagai
akibat dari hipoalbuminemia dan resistensi garam dan air.
·
Hati yang
membesar
Pembesaran hati
dapat ke atas mendesak diafragma. Hati membesar sekitar 2-3 cm dengan
konsistensi lembek dan menimbulkan rasa nyeri bila ditekan.
·
Hipertensi
portal
Hipertensi
portal adalah peningkatan tekanan darah vena portal yang menetap di atas nilai
normal. Penyebab hipertensi portal adalah peningkatan resistensi terhadap
aliran darah melalui hati.
5.
Klasifikasi
Penyakit
Secara klinis sirosis hati dapat dibagi menjadi:
1.
Sirosis hati
kompensata : yang berarti belum adanya gejala klinis yang nyata
2.
Sirosis hati
dekompensata yang ditandai gejala-gejala dan tanda klinik yang jelas. Sirosis
hati kompensata merupakan kelanjutan dari proses hepatitis kronik dan pasa satu
tingkat tidak terlihat perbedaanya secara klinis, hanya dapat dibedakan melalui
biopsi hati
Secara morfologis Sherrlock membagi sirosis hati
berdasarkan besar kecilnya nodul, yaitu:
1.
Makronoduler
(Ireguler, multilobuler)
2.
Mikronoduler
(reguler, monolobuler)
3.
Kombinasi antara
bentuk makronoduler dan mikronoduler
Menurut Gall, seorang ahli penyakit hati, membagi
penyakit sirosis hati atas:
1.
Sirosis postnekrotik,
atau sesuai dengan bentuk sirosis makronoduler atau sirosis toksik atau subcute
yellow, atrophy chirrosis yang terbentuk karena banyak terjadi jaringan nekrose
2.
Nutrisional
chirrosis terjadi sebagai akibat kekurangan gizi, terutama faktor lipotropik.
Shiff dan Tumen secara morfologi membagi atas:
1.
Chirrosis portal
laenec (alkoholik nutrisional) dimana jaringan parut secara khas mengelilingi
daerah portal. Sering disebabkan oleh alkoholis kronis
2.
Chirrosis
pascanekrotik, dimana terdapat pita jaringan parut yang lebar sebagai akibat
lanjut dari hepatitis virus akut yang terjadi sebelumnya
3.
Chirrosis
bilier, dimana pembentukan jaringan parut terjadi dalam hati di sekitar saluran
empedu, terjadi akibat obstruksi bilier yang kronis dan infeksi (kolangitis)
7. Pemeriksaan Diagnostik
Pemeriksaan laboratorium pada sirosis hati meliputi
hal-hal berikut.
a.
Kadar Hb yang
rendah (anemia), jumlah sel darah putih menurun (leukopenia), dan
trombositopenia
b.
Kenaikan SGOT,
SGPT dan gamma GT akibat kebocoran dari sel-sel yang rusak. Namun, tidak
meningkat pada sirosis inaktif.
c.
Kadar albumin rendah.
Terjadi bil kemampuan sel hati menurun.
d.
Kadar
kolinesterase (CHE) yang menurun kalau terjadi kerusakan sel hati
e.
Masa protrombin
yang memanjang menandakan penurunan fungsi hati
f.
Pada sirosis
fase lanjut, glukosa darah yang tinggi menandakan ketidakmampuan sel hati
membentuk glikogen.
g.
Pemeriksaan
marker serologi pertanda virus untuk menentukan penyebab sirosis hati seperti
HbsAg, HbeAg, HBV-DNA, HCV-RNA, dan sebagainya
h.
Pemeriksaan alfa
feto protein (AFP).
Pemeriksaan penunjang lainnya yang dapat dilakukan
antara lain ultrasonografi (USG). Pemeriksaan radiologi dengan menelan bubur
barium untuk melihat varises esofagus, pemeriksaan esofagoskopi untuk melihat
besar dan panjang varises serta sumber
perdarahan, pemeriksaan sidikan hati dengan penyuntikan zat kontras, CT scan,
dan endoscopic retrograde chlangiopancreatography (ERCP)
8. Penatalaksanaan
a.
Istirahat di
tempat tidur sampai terdapat perbaikan ikterus, asites, dan demam
b.
Diet rendah
protein (diet hati III protein 1 gr/kg BB, 55 gr protein, 2000 kalori). Bila
ada asites diberikan diet rendah garam II (600-800 mg) atau III (1000-2000 mg).
Bila proses tidak aktif diperlukan diet tinggi kalori (2000-3000 kalori) dan
tinggi protein (80-125 gr/hari). Bila ada tanda-tanda prekoma atau koma
hepatikum, jumlah protein dalam makanan dihentikan (diet hati II) untuk
kemudian diberikan kembali sedikit-demi sedikit sesuai toleransi dan kebutuhan
tubuh. Pemberian protein yang melebihi kemampuan pasien atau meningginya hasil
metabolisme protein, dalam darah viseral dapat mengakibatkan timbulnya koma
hepatikum. Diet yang baik dengan protein yang cukup perlu diperhatikan.
c.
Mengatasi
infeksi dengan antibiotik diusahakan memakai obat-obatan yang jelas tidak
hepatotoksik.
d.
Mempebaiki
keadaan gizi bila perlu dengan pemberian asam amino esensial berantai cabang
dengan glukosa.
e.
Roboransia.
Vitamin B compleks. Dilarang makan dan minum bahan yang mengandung alkohol.
Penatalaksanaan asites dan edema adalah :
Istirahat dan diet
rendah garam. Dengan istirahat dan diet rendah garam (200-500 mg perhari),
kadang-kadang asitesis dan edema telah dapat diatasi. Adakalanya harus dibantu
dengan membatasi jumlah pemasukan cairan selama 24 jam, hanya sampai 1 liter
atau kurang.
Bila dengan istirahat
dan diet tidak dapat diatasi, diberikan pengobatan diuretik berupa
spironolakton 50-100 mg/hari (awal) dan dapat ditingkatkan sampai 300 mg/hari
bila setelah 3 – 4 hari tidak terdapat perubahan.
Bila terjadi asites
refrakter (asites yang tidak dapat dikendalikan dengan terapi medikamentosa
yang intensif), dilakukan terapi parasentesis. Walupun merupakan cara
pengobatan asites yang tergolong kuno dan sempat ditinggalkan karena berbagai
komplikasinya, parasentesis banyak kembali dicoba untuk digunakan. Pada umunya
parasentesis aman apabila disertai dengan infus albumin sebanyak 6 – 8 gr untuk
setiap liter cairan asites. Selain albumin dapat pula digunakan dekstran 70 %
Walaupun demikian untuk mencegah pembentukan asites setelah parasentesis,
pengaturan diet rendah garam dan diuretik biasanya tetap diperlukan.
Pengendalian cairan
asites. Diharapkan terjadi penurunan berat badan 1 kg/hari. Hati-hati bila
cairan terlalu banyak dikeluarkan dalam suatu saat, dapat mencetuskan
ensefalopati hepatik
9. Komplikasi
Komplikasi chirrosis hati yang dapat terjadi antara
lain:
1.
Perdarahan
Penyebab perdarahan saluran cerna yang paling sering
dan berbahaya pada chirrosis hati adalah perdarahan akibat pecahnya varises
esofagus. Sifat perdarahan yang ditimbulkan ialah muntah darah atau
hematemesis, biasanya mendadak tanpa didahului rasa nyeri. Darah yang keluar
berwarna kehitam-hitaman dan tidak akan membeku karena sudah bercampur dengan
asam lambung. Penyebab lain adalah tukak lambung dan tukak duodeni.
2. Koma
hepatikum
Timbulnya koma hepatikum akibat dari faal hati yang
sudah sangat rusak, sehingga hati tidak dapat melakukan fungsinya sama sekali.
Koma hepatikum mempunyai gejala karakteristik yaitu hilangnya kesadaran
penderita. Koma hepatikum dibagi menjadi dua, yaitu: Pertama koma hepatikum
primer, yaitu disebabkan oleh nekrosis hati yang meluas dan fungsi vital
terganggu seluruhnya, maka metabolism tidak dapat berjalan dengan sempurna.
Kedua koma hepatikum sekunder, yaitu koma hepatikum yang timbul bukan karena
kerusakan hati secara langsung, tetapi oleh sebab lain, antara lain karena
perdarahan, akibat terapi terhadap asites, karena obat-obatan dan pengaruh
substansia nitrogen.
3. Ulkus
Peptikum
Timbulnya ulkus peptikum pada penderita Sirosis
Hepatis lebih besar bila dibandingkan dengan penderita normal. Beberapa kemungkinan
disebutkan diantaranya ialah timbulnya hiperemi pada mukosa gaster dan
duodenum, resistensi yang menurun pada mukosa, dan kemungkinan lain ialah
timbulnya defisiensi makanan
4. Karsinoma
Hepatoselular
Kemungkinan timbulnya karsinoma pada Sirosis Hepatis
terutama pada bentuk postnekrotik ialah karena adanya hiperplasi noduler yang
akan berubah menjadi adenomata multiple kemudian berubah menjadi karsinoma yang
multiple
5. Infeksi
Setiap penurunan kondisi badan akan mudah kena
infeksi, termasuk juga penderita sirosis, kondisi badannya menurun. Infeksi
yang sering timbul pada penderita sirosis, diantaranya adalah : peritonitis,
bronchopneumonia, pneumonia, tbc paru-paru, glomeluronefritis kronik,
pielonefritis, sistitis, perikarditis, endokarditis, erysipelas maupun
septikemi.
DAFTAR PUSTAKA
Doengoes, Marilynn E.
(1999). Rencana Asuhan Keperawatan :
pedoman untuk perencanaan dan pendokumentasian perawatan pasien, Edisi :
3.Jakarta : ECG.
Herdman, T. Heather.
(2012). Diagnosis Keperawatan : Definisi
dan Klasifikasi 2012-2014. Jakarta : ECG
Dorland, W. A. Newman.
(2011). Kamus Saku Kedokteran Dorland. Jakarta
: ECG
Smeltzer C. Suzanne,
Brunner & Suddarth. (2002) . Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah. Jakarta
: ECG
Smeltzer, Suzanne C dan
Brenda G. Bare. (2001) . Keperawatan Medikal Bedah2, Edisi 8. Jakarta :
EGC
ASUHAN KEPERAWATAN
SIROSIS HEPATIS di RUANG ‘ SHOFA’
R.S SAKINAH PASURUAN
Nama :
Lila Lusiana S
Wiwin Andayani
AKADEMI KEPERAWATAN DIPLOMA III
KAMPUS TERPADU SAKINAH
Jalan
Raya Surabaya – Malang KM 42 Kepulungan
Gempol-Pasuruan
Tahun
Ajaran 2014/2015
ASUHAN KEPERAWATAN
PENGKAJIAN
I.
Informasi Umum
Tanggal MRS :
6 Juli 2014
Jam MRS :
15.50 wib
Ruang :
Shofa
No. Registrasi :
668.439
Dx. Medis :
Sirosis Hepatis
Tanggal Pengkajian :
8 Juli 2014
Jam Pengkajian :
08.00 wib
A.
Data Pasien
Nama :
Tn. A
Jenis Kelamin :
Laki-laki
Umur :
50 th
Status Perkawinan :
Kawin
Pekerjaan :
Karyawan swasta
Agama :
Islam
Pendidikan :
SMA
Alamat :
Ds. Sukamaju - Pasuruan
Penanggung Jawab :
Musdalifah
Alamat Penanggung Jawab : Ds. Sukamaju - Pasuruan
B.
Riwayat
Kesehatan Pasien
a.
Keluhan Utama
Pasien
mengatakan bahwa dia lemas dan tidak nafsu makan
b.
Riwayat Penyakit
Sekarang
Pasien
mengatakan bahwa dia merasakan lemas tak bertenaga dan tidak nafsu makan,
bengkak pada seluruh tubuh, kulitnya terasa gatal dan berwarna kekuningan, BAK
sedikit dan berbusa selama 1 minggu yang lalu kemudian pasien memeriksakan diri
di puskesmas kecamatan asri dan kemudian dirujuk ke rs sakinah pada tanggal 6
Juli 2014 jam 15.50 wib
c.
Riwayat Penyakit
Dahulu
Pasien
mengatakan pernah menderita penyakit Hepatitis B satu tahun yang lalu, namun
setelah dinyatakan sembuh pasien mengulangi kebiasaanyya mengkonsumsi alkohol.
d.
Riwayat Penyakit
Keluarga
Pasien
mengatakan bahwa keluarganya tidak ada yang pernah menderita penyakit hepatitis
maupun penyakit menular lainnya.
II.
Pola Aktivitas
A.
Aktivitas/Istirahat
Gejala: Pasien
mengatakan dia merasa lemas dan lelah
Tanda: pasien
terlihat mengalami letargi, dan terjadi penurunan tonus otot
B.
Sirkulasi
Gejala: pasien
mengatakan bahwa dirinya tidak pernah menderita penyakit seperti penyakit
jantung dan penyakit sirkulasi lain
C.
Eliminasi
Gejala : pasien
mengatakan bahwa dia sering buang gas
Tanda : terjadi
distensi abdomen karena hepatomegali, splenomegali, dan asites, penurunan
bising usus, feses berwarna tanah liat / melena, urine berwarna gelap/ pekat
D.
Makanan/cairan
Gejala: pasien
mengatakan dirinya tidak nafsu makan, mual, dan muntah
Tanda : pasien
tampak lemas, dan pucat, napas berbau
E.
Neurosensori
Gejala : keluarga
pasien mengatakan bahwa pasien mngalami penurunan mental sejak mengalami sakit
Tanda : pasien
terlihat seperti orang bingung, berbicara lambat
F.
Nyeri/kenyamanan
Gejala : pasien
mengatakan bahwa perut sebelah kanan atasnnya terasa sakit, dengan skala 4
(skala bourbanis), dan nyeri timbul setiap saat apalagi bila dipakai bergerak
Tanda : pasien
terlihat berhati-hati bila bergerak
G.
Pernapasan
Gejala : pasien mengatakan
bahwa ia mrasakan sedikit sesak napas / dispnea
Tanda :
pernapasan pasien dangkal, ekspansi paru terhambat karena asites
H.
Keamanan
Gejala : pasien
mengatakan dirinya merasa gatal disekujur tubunhya / pruritus
Tanda : ikterik
pada kulit, angioma spider, eritema palmar
I.
Seksualitas
Gejala : pasien
mangatakan dirinya mengalami disfungsi seksual yaitu impoten
III.
Pemeriksaan
Fisik
1.
Keadaan Umum
Tampak lemah
(sakit sedang)
Kesadaran : GCS
: 456
Kualitas : composmentis
2.
Tanda Tanda
Vital
TD:
150/100 mmHg S: 39 °C
N
:86 x / menit RR: 22
x / menit
BB
: 54 kg TB :
168 cm
3.
Pemeriksaan
Kepala dan Leher
a) Kepala :
inspeksi : bentuk kepala : oval
Lesi : -
Edema : -
Warna : sawo matang
palpasi :
nyeri tekan : -
massa : -
b) Rambut :
inspeksi : penyebaran rambut :
merata
Warna : hitam beruban
Kebersihan : bersih
c) Mata :
inspeksi : kesimetrisan : simetris
Palpebra : edema
Konjungtiva : anemis
Sklera : ikterik
d) Hidung :
inspeksi : kesimetrisan : simetris
Kebersihan : bersih
Pernapasan cuping hidung : tidak ada
Perdarahan hidung : tidak ada
Palpasi :
deformitas : tidak ada
Nyeri tekan : tidak ada
e) Mulut :
inspeksi : kelembaban : kering
Warna : coklat
f) Telinga :
inspeksi : bentuk telinga : normal
kesimetrisan : simetris
kebersihan : bersih
perdarahan : tidak ada
alat bantu prndengaran : tidak ada
palpasi :
nyeri tekan : tidak ada
g) Leher :
inspeksi : posisi trakea : lurus
palpasi :
nyeri tekan : tidak ada
massa : tidak ada
4.
Pemeriksaan Integumen
Inspeksi :
kebersihan : bersih
Warna : coklat
Lesi: tidak ada
Edema : tidak ada
Spider nevi : +
Eritema palmar : +
Edema ansarka : +
Palpasi :
tekstur : kasar
Turgor : buruk (saat dicubit
kembali lebih dari 2 detik
Kelembaban : kurang (kulit
cenderung kering)
5.
Pemeriksaan
Thoraks dan Jantung
Inspeksi :
thorax : bentuk : barrel chest
Lesi : tidak ada
Jantung :
ictus cordis tidak terlihat
Palpasi :
thorax : ekspansi paru : menurun
karena asites
Traktil fremitus : sama
Jantung :
ictus cordis ics V
Perkusi :
thorax : sonor
Auskultasi :
thorax : ronkhi
Jantung : s1-s1 (lup dup)
6.
Pemeriksaan
Ekstremitas
Ekstremitas
atas : inspeksi : deformitas : -
Fraktur
: -
Lesi
: -
Eritema
palmar : +
Palpasi: tekstur : halus
Kelembaban
: kurang
Nyeri
tekan : -
Ekstremitas
bawah : inspeksi : deformitas : -
Lesi
: -
Kelainan
: -
Palpasi : tekstur : halus
Kelembaban
: kurang
Nyeri
tekan : -
Tonus otot : 4 4
4 4
7.
Pemeriksaan
Abdomen
Inspeksi : asites : +
Pelebaran vena : -
Lesi : -
Auskultasi : bising usus 5 x / menit tiap kuadran
Palpasi :
nyeri tekan : kwadran kanan atas, p= saat bergerak, q= seperti ditusuk, r=
kwadran kanan atas, s= 4 (sedang, skala bourbanis), t= setiap saat.
Hepatoegali
= +
Massa : -
Perkusi : pekak
8.
Pemeriksaan
Genitalia
Tidak terkaji
IV.
Pemeriksaan
Penunjang
Pemeriksaan Laboratorium Faal Hati
|
Ukuran
|
Satuan
|
Hasil
|
Nilai Rujukan
|
|
ALT (SGPT)
|
U/L
|
35
|
<23 span="">23>
<30 span="">30>
|
|
AST (SGOT)
|
U/L
|
35
|
<21 span="">21>
<25 span="">25>
|
|
Alkalin
Fosfatase
|
U/L
|
100
|
15-69
|
|
GGT (Gamma GT)
|
U/L
|
50
|
5-38
|
|
Bilirubin
Total
|
mg/dL
|
3
|
0,25-1,0
|
|
Bilirubin
Langsung
|
mg/dL
|
1
|
0,0-0,25
|
|
Protein Total
|
g/L
|
40
|
61-82
|
|
Albumin
|
g/dL
|
2
|
3,4-5,4
|
Terapi :
IFN (Interferon) 3 juta unit 3 x seminggu / sc
RIB (Ribavirin) 3 x 200 mg / hari / oral
Furosemid 2x 20 mg / hari / oral
ANALISA DATA
Nama : Tn. A Umur
: 50 th
No. Reg : 668.439 Tanggal
: 8 Juli 2014
Jam
: 08.00
|
DATA
|
ETIOLOGI
|
PROBLEM
|
|
Ds :
Pasien
mengatakan :
-tidak nafsu
makan
-cepat merasa
kenyang
-merasa tidak bertenaga
-merasa mual,
muntah
Do :
Pasien nampak
:
-lemas
-pucat
-tonus otot
buruk
Napas berbau
TTV :
-TD : 150/100
mmHg
-N : 86 x/min
-RR : 22 x/min
-S : 39 °C
|
Sirosis hati
Gangguan fungsi hati
Gangguan pembentukan empedu
Lemak tidak dapat diemulsikan
& tidak dapat diserap usus
Ketidakseimbangan
nutrisi : kurang dari kebutuhan tubuh
|
Ketidakseimbangan
nutrisi : kurang dari kebutuhan tubuh
|
|
Ds :
Pasien
mengatakan :
-badanya
terasa bengkak semua
-jumlah dan
frekuensi BAK berkurang
Do :
Pasien nampak
:
-edema
anasarka
-peningkatan
BB (51 kg sebelum sakit menjadi 54 kg setelah sakit)
-oliguria
TTV :
-TD : 150/100
mmHg
-N : 86 x/min
-RR : 22 x/min
-S : 39 °C
|
Sirosis hati
Fungsi hati terganggu
Gangguan metabolisme protein
Asam amino relatif (globulin,
albumin)↓
Hipoalbuminemia
Edema anasarka
Kelebihan
volume cairan
|
Kelebihan
volume cairan
|
|
Ds :
Pasien
mengatakan :
-pasien
mengatakan badanya terasa gatal
Do :
Pasien nampak
-pruritus
Ikterik
TTV :
-TD : 150/100
mmHg
-N : 86 x/min
-RR : 22 x/min
-S : 39 °C
|
Sirosis hati
Gangguan fungsi hati
Gangguan metabolisme bilirubin
Bilirubin tak terkonjugasi
Ikterik
Penumpukan garam empedu dibawah
kulit
Pruritus
Resti
kerusakan integritas kulit
|
Resti
kerusakan integritas kulit
|
DIAGNOSA
KEPERAWATAN
Nama : Tn. A Umur
: 50 th
No. Reg : 668.439 Tanggal
: 8 Juli 2014
Jam
: 08.00
|
No
|
Tanggal
|
Diagnosa
|
|
1
|
8 Juli 2014
|
Ketidakseimbangan
nutrisi : kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan fungsi usus abnormal
Ds :
Pasien
mengatakan :
-tidak nafsu
makan
-cepat merasa
kenyang
-merasa tidak
bertenaga
-merasa mual,
muntah
Do :
Pasien nampak
:
-lemas
-pucat
-tonus otot
buruk
Napas berbau
TTV :
-TD : 150/100
mmHg
-N : 86 x/min
-RR : 22 x/min
-S : 39 °C
|
|
2
|
8 juli 2014
|
Kelebihan
volume cairan berhubungan dengan penurunan protein plasma
Ds :
Pasien
mengatakan :
-badanya
terasa bengkak semua
-jumlah dan
frekuensi BAK berkurang
Do :
Pasien nampak
:
-edema
anasarka
-peningkatan
BB (51 kg sebelum sakit menjadi 54 kg setelah sakit)
-oliguria
TTV :
-TD : 150/100
mmHg
-N : 86 x/min
-RR : 22 x/min
-S : 39 °C
|
|
3
|
8 juli 2014
|
Resti
kerusakan integritas kulit berhubungan dengan akumulasi garam empedu dibawah
permukaan kulit
Ds :
Pasien
mengatakan :
-pasien
mengatakan badanya terasa gatal
Do :
Pasien nampak
-pruritus
Ikterik
TTV :
-TD : 150/100
mmHg
-N : 86 x/min
-RR : 22 x/min
-S : 39 °C
|
Nama : Tn. A Umur
: 50 th
No. Reg : 668.439 Tanggal
: 8 Juli 2014
Jam
: 08.00
|
No. Dx
|
Tujuan dan
Kriteria Hasil
|
Intervensi
|
Rasional
|
|
1
|
Tujuan :
-pemasukan
nutrisi adekuat untuk kebutuhan individu
-meminimalkan/mencegah
komplikasi
Kriteria hasil
:
-menunjukkan
peningkatan berat badan progresif mencapai tujuan dengan nilai laboratorium
normal
-tak mengalami
tanda malnutrisi lebih lanjut
|
1)
BHSP
2)
Ukur masukan
diet harian dengan jumlah kalori
3)
Berikan makan
sedikit tapi sering
4)
berikan
perawatan mulut sering dan sebelum makan
5)
awasi
pemeriksaan laboratorium, contoh : glukosa serum, albumin, total protein,
amonia
6)
berikan obat sesuai
indikasi, contoh : tambahan vitamin, tiamin, besi, asam folat
|
1.
Membangun hub
saling percaya antara pasien, perawat, & keluarga pasien
2.
Memberikan
informasi tentang kebutuhan pemasukan/ defisiensi
3.
Buruknya
toleransi terhadap makan banyak mungkin berhubungan dengan peningkatan
tekanan intra abdomen/ asites
4.
Pesien
cenderung mengalami luka/perdarahan gusi/ rasa tak enak pada mulut dimana
menambah anoreksia
5.
Glukosa
menurun karena gangguan glikogenesis penurunan simpanan glikogen / masukan
tidak adekuat. Protein menurun karena gangguan metabolisme, penurunan
sintesis hepatik. Peningkatan amonia perlu pembatasan masukan protein untuk
mencegah komplikasi serius
6.
Pasien
biasanya kekurangan vitamin karena diet yang buruk sebelumnya. Juga hati yang
rusak tidak dapat menyimpan vitamin A,B komplek,D dan K. Juga dapat terjadi
kekurangan besi dan asam folay yang menimbulkan anemia.
|
|
2
|
Tujuan :
Menormalkan
kembali volume cairan dalam tubuh
Kriteria hasil
:
-menunjukkan
volumecairan stabil, dengan keseimbangan
-pemasukan dan
pengeluaran,
-berat badan
stabil
-tanda-tanda
vital dalam rentang normal,
-tak ada
edema.
|
1.
Ukur masukan
dan haluaran, catat keseimbangan positif (pemasukan melebihi pengeluaran).
Timbang berat badan tiap hari, dan catat peningkatan lebih dari 0,5 kg/hari.
2.
Kaji derajat
perifer/edema dependen.
3.
Ukur lingkar
abdomen
4.
Kolaborasi
dengan tim medis dalam pemberian :
a.
diuretik
(lasix)
b.
pemberian albumin
bebas garam / plasma ekspander sesuai indikasi
c.
batasi cairan
dan natrium sesuai indikasi
|
1.
Menunjukkan
status volume sirkulasi, terjadinya/perbaikan perpindahan cairan, dan respons
terhadap terapi. Catatan: penurunan volume sirkulasi (perpindahan cairan)
dapat mempengaruhi secara langsung fungsi/haluan urine, mengakibatkan sindrom
hepatorenal.
2.
Perpindahan
cairan pada jaringan sebagai akibat retensi natrium dan air, penurunan
albumin, dan penurunan ADH.
3.
Menunjukkan
akumulasi cairan (asites) diakibatkan oleh kehilangan protein plasma/cairan
kedalam area peritoneal. Catatan: akumulasi kelebihan cairan dapat menurunkan
volume sirkulasi menyebabkan deficit (tanda dehidrasi).
a.
Digunakan
untuk mengontrol edemadan asites, menghambat aldosteron, meningkatkan
ekskresi air
b.
Untuk
meningkatkan tekanan osmotik koloid dalam kompartemen vaskuler, sehingga
meningkatkan volume sirkulasi efektif dan menurunkan terjadinya asites.
c.
Untuk
meminimalkan retensi cairan dalam area ekstravaskuler
|
|
3
|
Tujuan :
Mempertahankan
integritas kulit
Kriteria hasil
:
-mempertahankan
integritas kulit
-mengidentifikasi
faktor resiko
|
1)
Lihat
permukaan kulit/titik tekanan secara rutin.Pijat penonjolan tulang atau area
yang tertekan yang terus-menerus. Gunakan lotion minyak ; batasi pengguaan
sabun untuk mandi.
2)
Ubah posisi
pada jadwal teratur,saat di kursu atau tempat tidur; bantu dengan latihan
rentang gerak aktif atau pasif.
3)
Tinggikan
ekstrenitas bawah.
4)
Pertahankan
sprei kering dan bebas lipatan.
|
1.
Edema jaringan
lebih cendrung untuk mengelami kerusakan dan terbentuk dekubitus. Asitas
dapat meregangkan kulit sampai pada titik robkan pada sirosis berat.
2.
Pengubahan
posisi menurunkan tekanan pada jaringan edema untuk memperbaiki sirkulasi.
Latihan meningkatkan sirkulasi dan perbaikan atau mempertahankan mobilitas
sendi.
3.
Meningkatkan
aliran balik vena dan menurunkan edema pada ekstremitas.
4.
Kelembaban
meningkatkan pruritus dan meningkatkan risiko kerusakan kulit.
|
IMPLEMENTASI
KEPERAWATAN
Nama : Tn. A Umur
: 50 th
No. Reg : 668.439 Tanggal
: 8 Juli 2014
Jam
: 08.00
|
Tanggal
|
Jam
|
No. Dx
|
Implementasi
|
Respon Klien
|
|
9 Juli ‘14
|
08.00
08.05
08.20
08.30
08.40
08.50
|
1
|
1.
Melakukan BHSP
2.
Mengukur
masukan diet harian dengan jumlah kalori
3.
Memberikan
makan sedikit tapi sering
4.
Memberikan perawatan
mulut sering dan sebelum makan
5.
Mengawasi
pemeriksaan laboratorium, contoh : glukosa serum, albumin, total protein,
amonia
6.
Memberikan
obat sesuai indikasi, contoh : tambahan vitamin, tiamin, besi, asam folat
|
1.
Px menerima
dengan baik
2.
Px kooperatif
3.
Px kooperatif
4.
Px kooperatif
5.
Px kooperatif
|
|
9 juli ‘ 14
|
09.00
09.15
09.30
09.40
|
2
|
1.
Mengukur
masukan dan haluaran, catat keseimbangan positif (pemasukan melebihi
pengeluaran). Timbang berat badan tiap hari, dan catat peningkatan lebih dari
0,5 kg/hari.
2.
Mengkaji
derajat perifer/edema dependen.
3.
Mengukur
lingkar abdomen
4.
Berkolaborasi
dengan tim medis dalam pemberian :
a.
Diuretik
(lasix)
b.
Pemberian
albumin bebas garam / plasma ekspander sesuai indikasi
c.
Membatasi
cairan natrium sesuai indikasi
|
1.
Px kooperatif
2.
Px kooperatif
3.
Px kooperatif
4.
Px kooperatif
|
|
9 juli ‘ 14
|
09.50
10.00
10.15
10.20
|
3
|
1)
Mengamati
permukaan kulit/titik tekanan secara rutin.Pijat penonjolan tulang atau area
yang tertekan yang terus-menerus. Gunakan lotion minyak ; batasi pengguaan
sabun untuk mandi.
2)
Mengubah
posisi pada jadwal teratur,saat di kursu atau tempat tidur; bantu dengan latihan
rentang gerak aktif atau pasif.
3)
Meninggikan
ekstrenitas bawah.
4)
Mempertahankan
sprei kering dan bebas lipatan.
|
1)
Px kooperatif
2)
Px kooperatif
3)
Px kooperatif
4)
Px kooperatif
|
EVALUASI
Nama : Tn. A Umur
: 50 th
No. Reg : 668.439 Tanggal
: 9 Juli 2014
Jam
: 14.00
|
No. Dx
|
Tanggal/jam
|
Evaluasi
|
|
1
|
9 juli
‘14/14.00
|
S : Px
mengatakan nafsu makannya berangsunr kembali, masih merasa cepat kenyang,
sudah tidak mual lagi, merasa lebih segar
O : Px tampak
lebih bertenaga, tidak pucat, tonus otot baik
TTV :
TD : 140/100
mmHg
N : 80 x /min
RR : 22 x /
min
S : 37,5 °C
A : Masalah
teratasi sebagian
P : Intervensi
No. 2,3,4,5,6 dilanjutkan
|
|
2
|
9 juli ‘ 14 /
14.10
|
S : Px
mengatakan bengkak pada badannya sedikit berkurang, lebih sering kencing
O : Jumlah dan
Frekuensi urine bertambah, edema pada tuubh pasien berangsur berkurang
TTV
TD : 140/100
mmHg
N : 80 x /min
RR : 22 x /
min
S : 37,5 °C
BB : 53 kg
A : Masalah
teratasi sebagian
P : Intervensi
no. 1,2,3,4 dilanjutkan
|
|
3
|
9 juli ‘14/
14.20
|
S : pasien
mengatakan gatal pada kulitnya sedikit berkurang, dan warna kekuningan pada
kulitnya mulai hilang
O : ikterik
sudah mulai hilang, pruritus sudah mulai hilang
TTV :
TD : 140/100
mmHg
N : 80 x /min
RR : 22 x /
min
S : 37,5 °C
A : masalah
teratasi sebagian
P : Intervensi
no. 1,2,3,4 dilanjutkan
|
Tidak ada komentar:
Posting Komentar